internasional

Invasi Sunyi di Arktik, Perusahaan Minyak Kroni Trump Boyong Alat Bor Ilegal ke Greenland

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 21:13 WIB

Beritanya.com – Eskalasi perebutan wilayah Arktik kian memanas. Sebuah perusahaan minyak asal Texas yang memiliki keterikatan politik erat dengan Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah mendaratkan peralatan pengeboran lepas pantai secara sepihak di pesisir timur Greenland. Langkah nekat ini dilakukan tanpa mengantongi izin resmi dari otoritas lokal, di tengah gertakan diplomasi Trump yang kembali mendesak untuk menguasai wilayah otonom Kerajaan Denmark tersebut.

Perusahaan bernama Greenland Energy—yang baru didirikan tahun lalu—bersiap melancarkan eksplorasi di kawasan Jameson Land. Para eksekutif perusahaan mengklaim wilayah tersebut menyimpan cadangan minyak mentah bernilai fantastis hingga US$1 triliun (sekitar Rp16.000 triliun).

Perusahaan awalnya berencana menggelontorkan dana US$60 juta untuk mengebor dua sumur, sebelum akhirnya mengecilkan rencana menjadi satu sumur usai berdalih telah menggelar "diskusi konstruktif" dengan regulator lokal.

Pemerintah Greenland mengonfirmasi bahwa sebuah kapal tunda (tugboat) telah menyeret tongkang berisi puluhan kontainer peralatan berat ke lokasi tersebut. Otoritas menegaskan bahwa seluruh rantai logistik dan aktivitas pertambangan wajib mendapatkan persetujuan tertulis (prior approval) dari Badan Sumber Daya Mineral Greenland.

Media investigasi Denmark, Danwatch, mengamankan konfirmasi langsung dari perusahaan pelayaran bahwa pengiriman kargo ilegal tersebut memang dipesan khusus oleh Greenland Energy.

Tindakan ini menabrak kebijakan moratorium Greenland yang telah menghentikan seluruh izin eksplorasi minyak baru sejak 2021 demi perlindungan lingkungan. Guna memutar balik aturan tersebut, Greenland Energy meminjam tangan perusahaan asal Inggris, 80 Mile, yang memegang hak eksplorasi lama sebelum larangan berlaku. Lewat skema pendanaan pengeboran ini, Greenland Energy berambisi mencaplok saham mayoritas proyek.

"Pemerintah Greenland menegaskan bahwa operasional logistik belum mendapatkan izin. Namun, opsi pengusiran paksa peralatan belum diambil karena dianggap kurang proporsional selama berkas permohonan izin masih diselidiki," rilis pernyataan resmi pemerintah Greenland.

Struktur kepemimpinan Greenland Energy memicu sorotan tajam karena kental dengan figur-figur di lingkaran dalam politik Donald Trump. Perusahaan mempekerjakan Phil McGraw (Dr. Phil), figur media sayap kanan sekaligus mantan anggota komisi kebebasan beragama era Trump, untuk memproduksi film dokumenter proyek tersebut.

Selain itu terdapat koneksi 'Golden Dome'. Ini terlihat dari penunjukkan direktur yang terhubung dengan proyek Golden Dome—inisiatif sistem pertahanan rudal ambisius yang kerap dijadikan dalih oleh Trump mengenai urgensi AS menguasai Greenland.

Jeff Landry, Gubernur Louisiana yang ditunjuk Trump sebagai utusan khusus untuk isu Greenland, bahkan secara terpisah mengklaim bahwa Greenland siap memproduksi minyak paling cepat tahun depan.

Kendati Chairman Greenland Energy, Larry Swets, membantah proyeknya berkaitan dengan ambisi aneksasi Trump, rekam jejak perusahaan ini diwarnai kebohongan publik. Pada Juni lalu, perwakilan perusahaan ketahuan membohongi warga lokal dalam forum komunitas dengan mengklaim bahwa izin pendaratan alat sudah diterbitkan—pernyataan yang belakangan diakui Swets telah menimbulkan kekacauan informasi.

Lokasi pengeboran yang disasar Greenland Energy berada tepat di kawasan lahan basah yang dilindungi secara internasional di bawah Konvensi Ramsar. Kondisi ini menempatkan Pemerintah Greenland dalam dilema politik-ekologi yang rumit.

Otoritas Greenland menilai upaya Washington itu berisiko dijadikan dalih untuk meningkatkan tekanan politik dan aneksasi. Selain itu dapat nerusak ekosistem Ramsar fsn meruntuhkan komitmen iklim yang disepakati sejak 2021.

Perwakilan Greenland Energy membeberkan bahwa kapal kargo berikutnya yang membawa 300 kontainer peralatan tambahan dijadwalkan berlayar dari Kanada pada 12 September mendatang, dengan target memulai aktivitas pengeboran perdana pada Oktober 2026.

Tags

Terkini