• Selasa, 18 Agustus 2026

Iran Janjikan Imbalan Hampir Rp500 Juta untuk Pembunuhan dan Penangkapan Prajurit AS

Didin Ridho, Beri-Tanya.com
- Senin, 17 Agustus 2026 | 21:53 WIB
Foto: Getty
Foto: Getty

 

Beri-Tanya.com — Militer Republik Islam Iran secara resmi mengumumkan program imbalan (bounty) sebesar $30.000 atau hampir Rp500 juta bagi siapa saja yang berhasil membunuh atau menangkap prajurit militer Serikat (AS). Uniknya, nilai imbalan bertambah menjadi dua kali lipat jika aksi tersebut dilakukan oleh seorang perempuan.

Pernyataan berisiko tinggi ini disampaikan langsung Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Amir Hatami, pada Minggu. Menurut laporan kantor berita negara IRNA, langkah ini diambil mengklaim tingginya dorongan publik dan partisipasi warga di tengah tensi perang yang belum sepenuhnya padam.

"Siapa saja yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer AS yang melakukan invasi akan menerima imbalan senilai $30.000 atau 5 miliar Toman dari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran," tegas Hatami.

"Perempuan-perempuan Iran yang pemberani yang melakukan tindakan tersebut akan menerima imbalan berlipat ganda," tambahnya.

Hatami tidak membeberkan rincian lokasi atau waktu pasti di mana aksi penangkapan tersebut diharapkan terjadi, namun ia kembali mempertegas tuntutan Iran agar pasukan AS angkat kaki dari kawasan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia.

Meskipun hingga kini belum ada penempatan resmi pasukan darat AS secara massal di wilayah kedaulatan Iran, pengumuman ini datang menyusul memori dramatis atas misi penyelamatan udara AS pada April lalu.

Misi tersebut dikerahkan untuk menyelamatkan perwira sistem persenjataan (weapon systems officer) dari jet tempur F-15 AS yang jatuh di wilayah Iran. Operasi berskala besar yang melibatkan sekitar 200 prajurit AS dan lebih dari 170 armada udara tersebut berhasil mengevakuasi kru sebelum mendahului pasukan Iran.

Konflik terbuka antara Washington dan Teheran yang pertama kali meletus pada 28 Februari—saat AS dan Israel meluncurkan serangan udara bersama—sempat tertahan lewat kesepakatan gencatan senjata pada April. Namun, kerangka kerja negosiasi damai yang dirancang pada Juni hancur di tengah jalan.

Sejak saat itu, kedua belah pihak terlibat baku tembak secara sporadis, terutama di wilayah Iran selatan dan koridor vital Selat Hormuz. Jalur komunikasi tidak langsung melalui mediator sejauh ini gagal menghasilkan terobosan diplomatik, di mana Iran tetap bertahan pada tuntutannya—termasuk pembayaran ganti rugi perang (war damages) sebelum kembali membuka akses pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Editor: Didin Ridho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X