internasional

Trump Dievakuasi dengan Truk Katering di Ankara Usai Ancaman Pembunuhan dari Iran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:54 WIB
Donald Trump sebelum menaiki pesawat Boeing 747-8 hadiah dari Qatar pada 1 Juli 2026. (Foto: Getty)

Beri-Tanya.com – Sebuah operasi pengelabuan (security ruse) tingkat tinggi yang menyerupai adegan film spionase terungkap ke publik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan dievakuasi secara rahasia menggunakan truk katering bandara untuk menghindari potensi serangan atau ancaman pembunuhan dari pihak Iran sewaktu bertolak dari Ankara, Turki, bulan lalu.

Laporan eksklusif yang dihimpun dari The Washington Post, The New York Times, dan CBS News membeberkan bagaimana intelijen AS merancang skenario 'pesawat pengecoh' (decoy aircraft) untuk mengamankan sang presiden di tengah memanasnya konflik Washington-Teheran.

Operasi senyap ini berawal setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara pada 8 Juli lalu. Di hadapan kamera televisi dan awak media yang meliput secara langsung, Trump terlihat menaiki pesawat kepresidenan utama, Boeing 747 (Air Force One).

Namun, begitu pintu pesawat tertutup dan terhindar dari sorotan media, taktik pengelabuan langsung dijalankan. Trump bersama beberapa staf senior diam-diam diselundupkan keluar dari pintu sisi berlawanan Air Force One. Mereka masuk ke dalam truk katering bandara—kendaraan yang biasa digunakan untuk memasok makanan pesawat.

Truk tersebut diturunkan dan mengangkut Trump melintasi area apron bandara menuju pesawat militer yang lebih kecil, yaitu Boeing C-32A, yang sudah bersiaga di sudut lain. Upaya pengelabuan ini meliputi tiga penerbangan terpisah. Boeing 747 Hadiah Qatar (Call Sign: "SAM 33") terbang terlebih dahulu menuju Inggris tanpa Trump di dalamnya.

Kemudian Air Force One Lama (Call Sign: "AF1") lepas landas membawa wartawan dan staf Gedung Putih yang meyakini Trump berada di dalam pesawat tersebut. Selama penerbangan, jendela pesawat diperintahkan untuk ditutup rapat.

Penerbangan ketiga adalah Boeing C-32A (Call Sign: "RCH18") secara senyap membawa Trump. Sistem pelacak posisi publik (transponder) pesawat ini dimatikan total selama penerbangan menuju Pangkalan Udara RAF Mildenhall di Inggris.

Rencana pengelabuan ekstrem ini dipicu oleh laporan intelijen AS yang mendeteksi ancaman nyata dan spesifik dari Iran terhadap keselamatan Trump serta pesawat kepresidenan. Ancaman ini muncul hanya sehari setelah pasukan AS memperbarui gelombang serangan udara ke Iran atas perintah Trump pasca-runtuhnya negosiasi damai kedua negara.

Tingkat kerahasiaan operasi ini begitu ketat hingga mayoritas staf senior Gedung Putih dan awak media di atas Air Force One tidak menyadari bahwa mereka sedang dijadikan 'umpan'. "Mungkin penerbangan kalian tadi sedikit berbahaya. Tapi kalau saya jatuh, kalian juga ikut jatuh," gurau Trump kepada para wartawan saat dikonfirmasi mengenai alasan penutupan tirai jendela selama penerbangan.

Pertukaran Pesawat di RAF Mildenhall

Ketiga pesawat mendarat di pangkalan udara RAF Mildenhall, Inggris, hanya berselisih beberapa menit. Guna menjaga narasi publik, Trump secara diam-diam dipindahkan kembali ke dalam Air Force One sebelum berjalan turun menyapa para prajurit militer AS di lokasi. Setelah menyapa pasukan, Trump berganti pesawat ke Boeing 747 hibah dari Qatar untuk melanjutkan perjalanan akhir menuju Washington.

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, tidak membantah detail taktik pengelabuan menggunakan truk katering tersebut. Ia menegaskan bahwa AS berhadapan dengan banyak musuh yang menargetkan keselamatan presiden.

"Amerika Serikat memiliki banyak musuh yang terus mengincar Presiden Trump," tegas Cheung. "Kami menggunakan setiap opsi dan sarana yang ada untuk memitigasi ancaman tersebut."

Taktik pengelabuan menggunakan pesawat pemicu/umpan (decoy) seperti ini bukan pertama kalinya terjadi dalam sejarah kepresidenan AS. Pada tahun 2000, Presiden Bill Clinton pernah menggunakan jet eksekutif tanpa identitas resmi saat berkunjung ke Pakistan, sementara pesawat kepresidenan utama diterbangkan sebagai pengecoh atas alasan keamanan serupa.

Tags

Terkini