ekonomi

Ambisi Besar Prabowo Pacu Mobil dan Motor Listrik, Potensi Ratusan Miliar Dolar, hingga Tantangan Rantai Pasok

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:37 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). (Dok: Sekretariat Presiden)

Beri-Tanya.com – Peta industri otomotif tanah air tengah berada di ambang transformasi paling radikal dalam sejarah modern Indonesia. Langkah tegas diambil oleh Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di kawasan manufaktur Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Dalam momen krusial tersebut, pemerintah tidak hanya meletakkan batu pertama bagi babak baru transisi energi kendaraan roda dua, melainkan juga secara resmi memancangkan fondasi awal bagi lahirnya industri mobil listrik nasional berproduksi massal yang ditargetkan rampung paling lambat pada tahun 2028.

Langkah ini menegaskan bahwasanya Indonesia tidak lagi sudi hanya menjadi penonton atau sekadar pasar pasif bagi raksasa otomotif global. Dengan kombinasi ancaman pajak karbon (carbon tax), skema tukar tambah yang membumi, insentif kredit tanpa uang muka (down payment/DP 0%), hingga hilirisasi nikel dari hulu ke hilir, pemerintah tengah merajut cetak biru besar demi merebut kemandirian ekonomi serta dominasi industri kendaraan listrik di tingkat regional maupun global.

Di tengah sorotan publik terhadap peresmian ekosistem Molinas, Presiden Prabowo membocorkan strategi besar pemerintah yang melangkah jauh melampaui kendaraan roda dua. Pemerintah saat ini tengah aktif membangun kompleks industri kendaraan listrik terpadu skala besar yang membentang di koridor Purwakarta hingga Subang, Jawa Barat.

"Tadi saya dijelaskan ada ekosistem yang sedang dibangun untuk mobil listrik kita, kalau tidak salah tidak jauh dari sini, perjalanan ke Purwakarta ya, Subang, di kilometer 84. Ada kompleks besar kita lagi bangun, mobil listrik Indonesia yang kita berharap paling lambat tahun 2028 sudah produksi besar-besaran," tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya di Cikarang.

Penetapan target produksi massal mobil listrik nasional pada 2028 ini membuktikan keseriusan pemerintah dalam membangun basis manufaktur roda empat buatan dalam negeri. Langkah strategis ini diambil seiring dengan makin ketatnya regulasi emisi global dan tren pembatasan kendaraan berbasis bahan bakar fosil di berbagai megapolitan dunia. Prabowo merujuk pada kota-kota besar seperti Beijing yang telah secara ketat melarang akses masuk bagi sepeda motor bensin.

Pesan yang disampaikan ke publik sangat lugas: transisi menuju kendaraan listrik—baik roda dua maupun roda empat—bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan tuntutan keniscayaan geopolitik dan lingkungan yang tak terelakkan.

Skema "Tukar Tambah" dan Gertakan Pajak Karbon

Sadar bahwa jutaan masyarakat Indonesia saat ini masih bergantung pada kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), Presiden menegaskan bahwa transisi ini tidak akan dilakukan secara represif atau mengabaikan rakyat kecil. Pemerintah tengah menggodok skema ramah kantong yang memungkinkan pemilik kendaraan konvensional melakukan tukar tambah (trade-in) ke kendaraan listrik baru.

"Tenang saja, kita ada skema-skema nanti yang sudah terlanjur punya motor bensin, nanti kita pikirkan bagaimana kita bisa tukar tambah. Kau setor motor yang lama, dapat motor baru, ya tambah dikitlah ya kan," seloroh Prabowo.

Skema pemulihan dan penukaran kendaraan ini bakal ditopang oleh perhitungan efisiensi operasional yang cukup menggiurkan. Penggunaan kendaraan listrik terbukti mampu menekan biaya operasional harian masyarakat hingga 50% sampai 70% jika dibandingkan dengan mengonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, bagi pihak yang tetap keras kepala enggan beralih, pemerintah menyiapkannya lewat pendekatan disinsentif ekonomi melalui penerapan pajak karbon.

Potensi Raksasa US$ 170 Miliar dan Benteng Hilirisasi Nikel

Dari kacamata makroekonomi, prospek otomotif berbasis listrik di tanah air menyimpan ruang pertumbuhan (upside) yang sangat fantastis. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa pasar kendaraan roda dua listrik di Indonesia memiliki ceruk potensi yang diproyeksikan mencapai US$ 170 miliar.

Data Kementerian Investasi mencatat saat ini terdapat sekitar 140 juta unit sepeda motor bensin yang beroperasi di jalanan Indonesia. Sementara angka penjualan motor nasional mencapai 6 hingga 7 juta unit per tahun. Saat ini penjualan motor listrik baru berada di kisaran 60.000–70.000 unit per tahun atau baru menyerap sekitar 1% dari total pangsa pasar.

Halaman:

Tags

Terkini