Beri-Tanya.com – Musibah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo kini tak hanya mengancam ekosistem endemis, tetapi juga memukul telak nadi perekonomian masyarakat lokal. Hingga Senin (10/8/2026) pagi, luasan area terdampak telah membengkak hingga kisaran 550 hektar, memicu penutupan total seluruh akses wisata sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Keputusan penutupan kawasan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) ini diambil sebagai langkah darurat guna menjamin keselamatan pengunjung sekaligus memberi ruang bagi operasi pemadaman skala besar.
Lidah api yang berawal dari Blok Bantengan sejak awal Agustus lalu kini telah melahap vegetasi langka di kawasan savana, tebing kaldera, Puncak P30, hingga Lembah Dingklik. Tanaman khas pegunungan seperti cemara gunung, mentigen, akasia, serta hamparan semak belukar hangus tak tersisa.
Kecepatan perambatan api dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem. Hembusan angin kencang dari puncak tebing menerbangkan bara api menerobos Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan membakar hamparan savana di bawahnya. Sementara suhu dingin ekstrem yang membekukan tanaman justru membuat vegetasi lokal mengering drastis saat terpapar panas matahari, menjadikannya bahan bakar yang sangat mudah tersulut.
Industri Wisata Bromo Lumpuh Total
Langkah tegas BB TNBTS menutup seluruh pintu masuk—mulai dari Jemplang, Coban Trisula (Malang), Senduro (Lumajang), hingga akses Probolinggo dan Pasuruan—seketika menghentikan perputaran roda ekonomi berbasis pariwisata di kawasan Tengger.
Ribuan pelaku usaha lokal yang menggantungkan hidup dari sektor ini terpaksa gigit jari. Ratusan armada Jeep wisata dan penyewaan kuda berhenti beroperasi penuh. Sementara pihak pengelola homestay, hotel, pedagang souvenir, hingga pemilik warung di sekitar gerbang masuk mengalami pembatalan (cancellation) massal dari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menjelaskan bahwa kecuraman tebing kaldera dan jurang yang terjal menjadi kendala utama tim pemadam darat.
Guna menembus titik api yang mengarah ke permukiman warga, operasi intervensi udara diturunkan sebagai ujung tombak:
"Dua unit helikopter water bombing (tipe PK-DAN dan PK-DAP) dikerahkan untuk mengguyur titik panas di lokasi terjal. Di jalur darat, personel gabungan dari BPBD lintas daerah, TNI/Polri, Polhut, hingga Relawan Peduli Api bahu-membahu menyekat pergerakan api menggunakan armada truk pemadam, tanki air, serta drone water spray," terang Satriyo.
Upaya penanganan terpadu ini terus difokuskan untuk menahan laju api agar tidak menembus batas desa dan kawasan permukiman warga Tengger.