nasional

Jusuf Kalla : Dinamika Internal Kelompok Pemicu Ricuh Hari Damai Aceh

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15 WIB
Wakil Presiden RI Ke-10 dan Ke-12 H.M Jusuf Kalla.

Beritanya nih gaesss.... Tokoh perdamaian Aceh sekaligus mantan Wapres RI Jusuf Kalla menyebutkan, kericuhan berujung tindakan anarkis saat peringatan Hari Damai Aceh, di Banda Aceh, Sabtu (15/8) kemarin, dipicu oleh persoalan dinamika yang tengah terjadi di internal kelompok-kelompok tertentu di Provinsi Aceh.

"Peristiwa ini adalah ekspresi antara ketidaksenangan dan juga keinginan yang masih ada kelompok-kelompok, walaupun kecil, tetapi dapat memprovokasi masyarakat di sana," kata Wapres Ke-10 dan Ke-12 RI yang akrab disapa Pak JK itu.

Peristiwa kericuhan itu terjadi menyusul kegiatan perayaan Hari Damai Aceh Ke-21 yang sedang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Peringatan Hari Damai Aceh itu umumnya diisi dengan kegiatan doa dan zikir bersama di lokasi tersebut.

"Kemudian, entah bagaimana sebabnya tentu ada yang memprovokasi, tibalah kemudian demo dan malah mengganti bendera itu," jelasnya.

Dalam pernyataannya yang dibagikan kepada media, Sabtu (15/8) kemarin, Pak JK menjelaskan, kericuhan dan anarkisme aksi massa itu bukan bentuk penolakan terhadap pemerintah pusat.  Tetapi sumber masalahnya karena ada sebagian kelompok yang merasa tidak puas terhadap kepemimpinan di daerah.

Sayangnya, saat kericuhan itu berlangsung, tokoh utama Aceh sedang tidak berada di Banda Aceh. Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) sedang berada di Kuala Lumpur untuk menjalani pengobatan, sedangkan Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud sedang berada  di Penang, juga untuk menjalani pengobatan.

"Jadi hampir tidak ada pimpinan yang berpengaruh berada di Banda Aceh Panda saat ini. Hanya wakil gubernur dan tentu pihak kepolisian," tegas Pak JK.

Lebih lanjut Pak JK juga menjelaskan, selama 21 tahun terakhir kepemimpinan Aceh banyak diisi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari mantan kelompok atau ekskombatan dan telah dipilih secara demokratis lewat Pemilu. "Namun mungkin ada ketidakpuasan dalam hal ini, maka terjadilah kejadian tadi," tandasnya.

Pak JK juga mengingatkan, bahwa aksi massa itu jelas tidak mewakili suara mayoritas masyarakat Aceh yang menginginkan perdamaian. Apalagi masyarakat Aceh juga menyadari selama 21 tahun itu perdamaian telah membawa banyak perubahan positif bagi Aceh.

"Yang penting masyarakat memahami bahwa perdamaian telah membawa kemajuan dan kesejahteraan. Jangan sampai apa yang sudah dicapai selama 21 tahun ini terganggu," harap Pak JK. 

Mengapa harus anarkis gara-gara masih tidak puas?

Tags

Terkini